
Tidak ada ikatan antara Arab Saudi dan Indonesia yang lebih dalam daripada haji dan umrah. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dengan lebih dari 230 juta muslim, Indonesia memegang kuota haji terbesar di dunia, 221 ribu jamaah pada musim 2025, di samping sekitar 1,5 juta jamaah umrah Indonesia setiap tahun.
Dimensi ekonomi yang besar
Di balik angka itu terdapat ekonomi besar dan bercabang: penerbangan, perhotelan, transportasi darat, katering, koper dan perlengkapan, layanan penukaran uang dan telekomunikasi, asuransi, pelatihan pembimbing, serta teknologi pengelolaan rombongan.
Ambil satu contoh yang menunjukkan skalanya: 1,5 juta jamaah umrah berarti jutaan malam hotel, jutaan porsi makan, dan ratusan ribu perjalanan transportasi dalam negeri. Setiap layanan itu adalah rantai pasok utuh dengan pemasok dan kontraktornya sendiri.
Ekonomi ini juga memiliki sifat langka: permintaannya berulang dan dapat diperkirakan. Jumlah jamaah haji ditetapkan lewat kuota yang diumumkan lebih dahulu, dan umrah tersebar sepanjang tahun dengan musim yang diketahui. Hal itu membuat perencanaan dan investasi di dalamnya lebih rendah risiko dibanding banyak sektor.
Peluang yang didukung Visi 2030
Dalam Visi 2030, Kerajaan menargetkan perluasan besar jumlah jamaah umrah dan pengunjung, perluasan yang menuntut basis layanan lebih besar dari yang ada. Ini berarti peluang di bidang-bidang tertentu.
Di perhotelan, di mana permintaan atas kategori hotel menengah yang tertata melampaui pasokan pada musim ramai.
Di teknologi, karena mengelola rombongan sebesar ini membutuhkan platform pemesanan, pelacakan, dan layanan pelanggan dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Di pelatihan dan layanan kebahasaan, sebab pembimbing yang berbahasa Indonesia dan memahami budaya jamaah asal Jawa atau Sumatra memberikan layanan yang tidak tergantikan oleh terjemahan mesin.
Serta di pangan dan perlengkapan yang disesuaikan dengan preferensi pengunjung Indonesia, sebuah pasar tersendiri di dalam pasar Saudi.
Saling melengkapi, bukan bersaing
Keunggulan terpenting sektor ini adalah bahwa ia tidak bertumpu pada persaingan menang-kalah antara kedua negara, melainkan pada saling melengkapi yang jelas. Arab Saudi memiliki tempat, infrastruktur, dan penataannya; Indonesia memiliki basis pengunjung terbesar di dunia serta pemahaman mendalam atas kebutuhan dan preferensi mereka.
Kemitraan antara perusahaan Saudi dan perusahaan Indonesia di bidang ini menyatukan apa yang tidak dimiliki satu pihak saja: kemampuan melaksanakan di dalam Kerajaan, dan kemampuan menjangkau pelanggan di negerinya serta memahami bahasa dan harapannya.
Model ini, di mana masing-masing pihak menyumbang apa yang tidak dimiliki pihak lain, adalah bentuk kemitraan paling stabil dan paling kecil kemungkinan berselisih.
Bergerak di layanan haji dan umrah serta mencari mitra Indonesia? Dewan Bisnis Saudi-Indonesia membuka saluran yang tepat untuk Anda.